MENAPAK JEJAK AMIEN RAIS
Malam itu, sebuah telepon berdering untuk bapak. Telepon penting nan genting. Bapak yang saat itu berada dalam perjalanan, diminta segera datang ke rumah Pak Habibie. Hampir semua pimpinan partai politik dan pimpinan fraksi telah berada disana. Termasuk diantaranya adalah Akbar Tanjung, Ginanjar Kartasasmita, Hamzah Haz dan Yusril Ihza Mahendra. Selain para politisi dari Poros Tengah dan Golkar, ada juga perwira tinggi TNI. Setiba di kediaman Habibie, bapak langsung didaulat. Jendral Wiranto spontan menepukkan tangannya di bahu bapak. “Bismillah Pak Amien, TNI ada dibelakang anda, jika Pak Amien bersedia dicalonkan menjadi presiden”, demikan kata kata Jendral Wiranto, yang saat itu merupakan panglima tinggi ABRI. Sebuah daulat yang diamini oleh semua orang yang berada dalam ruangan tersebut. Bapak berkisah padaku, ia sungguh berada dalam sebuah dilemma. Menjadi Presiden. Memegang tampuk kepemimpinan paling tinggi di negara ini. Menjadi pengambil kebijakan akhir dalam setiap urusan pemerintah dan rakyatnya.
Tidak tersedia versi lain